Sejarah Desa

MENGENAL RAI TOHE

Semoga banyak orang bisa mengenal Rai Tohe. Semoga banyak orang bisa mencintai, memajukan dan mengambil spirit dari Rai Tohe. Rai Tohe adalah satu bekas wilayah kerajaan kecil di Rai Belu Fialaran, Rai Timor. Rai artinya Negeri atau Tanah.
Konon kata Tohe berasal dari Toe, dalam Bahasa Tetun, artinya bersilangkata, berdebat. Toe Malu artinya saling beradu kata.
Akhirnya kata Toe dikembangkan menjadi Tohe. Perubahan kata itu sering terjadi dalam Bahasa Tetun.
Tohe beranjak dari kerajaan kecil menjadi Desa di jaman pemerintahan Indonesia. Tohe karena wilayahnya luas dan banyak penduduknya, telah menjadi dua Desa yakni Tohe di Haekesak dan Tohe Leten di Wilaen. Kedua desa ini terletak dalam wilayah Kecamatan Raihat, yang beribukota di Haekesak, dalam wilayah Kabupaten Belu yang beribukota di Atambua dan berada di Provinsi Timor Barat/NTT yang beribukota di Kupang. Walaupun berada di Pulau Timor, Rai Tohe, masih termasuk dalam wilayah Negara Indonesia. Letaknya persis berbatasan dengan Wilayah Maliana, Negara Timor Leste.

Kenapa dinamakan Tohe? Karena orang Tohe jago berdebat. Berdebat soal apa? Soal kesejahteraan mempertahankan tanah air warisan leluhur tentunya. Namun hebatnya, orang Tohe kalau berdebat, lebih memakai otak daripada otot. Karena dalam Bahasa Tetun, toe lebih berkaitan dengan debat yang mementingkan kerja otak, bermain logika dan nalar akalbudi. Berbeda dengan kata Hakát yang berarti bertengkar dengan melibatkan otot alias kekerasan fisik.
Memang, Orang Tohe, walau kadang dijuluki Toe Uman, alias suka berdebat, namun jarang dijuluki Nakát atau Hakát Uman alias suka bertengkar. Karena suka berdebat tapi tidak suka kekerasan fisik, maka Rai Tohe tidak pernah dicaplok oleh musuh, dan bahkan musuh sekalipun akhirnya menjadi sahabat yang saling setia. Bahkan orang Tohe boleh menjadi jurudamai dan penghimpun serta pemimpin yang hebat dan disegani serta dikasihi.
Ya, memang Orang Tohe cukup rasional, santun, mandiri dan kukuh pendirian. Banyak pemikir dan tokoh besar berasal dari sini.
Sebut saja Bapak Vincencius Basenti Saka, yang adalah anggota DPR Pusat di Jakarta, di tahun 1950-an, mewakili orang Katolik Timor, Flores dan Sumba, tokoh politik nasional, dari Partai Katolik. Kelak beliau, sebagai generasi pertama, yang menelurkan banyak tokoh politik NTT lainnya seperti Bapak Frans Seda sebagai generasi kedua.

Selain itu, juga Bapak Domi Luan, yang menjadi Kepala Kantor Penerangan di beberapa kabupaten di NTT. Juga Bapak Paulinus Asa Talok, yang menjabat Camat di beberapa kecamatan di Belu sekaligus menjadi Kepala Bappeda Belu dan bahkan Ketua Adat Kabupaten Belu. Bapak Aklibertus Alberto Berek de Carvalho, yang pernah menjabat Kepala Puslitbang Timor-Timur, dan pula Bapak Petrus Lelo Talok, yang menjadi guru sekolah misionaris ke Alas/Tasimane di tahun 1950-an. Beberapa generasi lebih muda misalnya Bapak Matias Meti, Bapak Benyamin Sesu Mali, penerima Kalpataru; Bapak Guru Dominikus Bau, Bapak Anton Seran Wilik, yang merupakan Mako’an Boot Rai Belu. Juga Nai Guru Anis Bere yang merupakan tokoh awam Katolik yang tetap aktif sampai sekarang. Di bidang pengkaderan, hadir pula Bapak Bernardus Luankali (alm.) dan Bapak Dr. Dami Talok, akademisi yang mengabdi di perguruan tinggi puluhan tahun. Tokoh Politik Tohe yang juga sudah menduduki keanggotaan di DPRD antara lain Bpk Kornelius Talok. Tokoh politik lain antara lain Bapak Leo Bere. Tokoh Wanita Tohe yang luar biasa antara lain Ibu Etha Mesak dan Ibu Etha Musu, serta Ibu Nona dan Ibu Tina Talok. Juga para pendidik dari Tohe yang berkarya di luar Tohe, seperti Ibu Nela Metak, Ibu Eta Loet, Ibu Domingas Talok, Ibu Yasinta Ili Bau, Bapak Wens Musu, juga tidak dilupakan Guru Lipus Suri, Guru Mundus Asa, Guru Tinus Meti dan masih banyak lagi. Juga dari bidang Katekis Awam, terkenal nama Bapak Guru Asten, Bapak Romanus Halek, Bapak Marsel Saka dan dari dunia Kesehatan muncul nama Bapak Eus Mones, Ibu dokter Irene de Carvalho, dan masih banyak lagi. Para tokoh awam wanita antara lain Ibu Barbara Lotu dan Ibu Alicia Funan. Tokoh pemuda Tohe di Provinsi NTT antara lain Bapak Yulius Talok dan Bapak Vicktor Manek.

Kalangan penenun tradisional muncul nama Ibu Aquilina Rafu dan Ibu Beatriks serta Ibu Aquilina Motu serta Ibu Tori Tahan, Ibu Tori Funan. Selain itu para penabuh likurai yang hebat antara lain Ibu Klara, Ibu Maria Bui. Para pengobat tradisional yang kharismatik antara Ibu Waik Aek, Ibu Lin, Ibu Modes. Kaum Ibu yang selalu setia mendampingi anak-anak muda di sana untuk bertugas di Gereja banyak tak terhitung, Ibu Gonda Asy, Gonda Balok, Ibu Fin Bikan, Ibu Guru Lin Rika dan masih banyak lagi. Selain itu, dahulu kala Tohe dikenal banyak pengrajin besi yang menghasilkan parang, surik, diman, belak, kaebauk.

Kerabat dari Tohe yang juga luar biasa antara lain Bapak Piet Musu, Bapa Yosep Moruk, Ibu Folo Abuk, Bapak Domi Loko, dan masih banyak lagi. Pengusaha lokal seperti Bapak Mau Uluk, Boss Meli, Bapak Minggus Asa, Ibu Ki Moi dan masih banyak lagi.

Dari kalangan Gereja, muncul Pater Bene Atok, SVD, Pater Ose Situ, Romo Endik Hale, Pr, Pater Edi, Pater Nuel, Pater Teus, Pater Beni dan Romo Okto Neno. Suster-suster antara lain, Sr. Klara Stefani, Sr. Ewalde Musu, Sr. Bernalde Lin Sr. Katrin dan Sr. Agusta. Pemusik asal Tohe antara lain Bapak Yance Bere dan Bapak Us Atok dan masih banyak lagi. Bahkan seorang cucu asal Tohe tahun ini menjadi Duta Wisata Kota Kupang yakni Patricio Alvin Talok.

Selain itu untuk tidak dilupakan, Tohe telah menghasilkan pula seorang Martir Awam Katolik dalam menegakkan nilai-nilai Kristen yakni Martir Bernardinus Luan yang dibunuh oleh para pasukan Jepang di tahun 1940-an.

KEUNIKAN ALAM TOHE

Tohe memiliki keunikan alam berupa bukit-bukit karang, mataair-mataair, sarangkelelawar atau Niki Uman atau Niki Matan, dan masih banyak lagi.
Konon yang menjadi satu kekhasan Rai Tohe berkaitan dengan adat-istiadat leluhur antara lain:
1. Weliurai dan Wetohe, sebagai bukti ikatan Adat Kerajaan Besar Belu Tasifeto Fialaran/Fehalaran (di mana Tohe adalah kerajaan kecil dalam wilayah kerajaan Belu Tasifeto Fialaran), berkaitan dengan Kerajaan Wesei Wehali. Di mana, menurut cerita, seorang leluhur pria asal Tohe pergi ke Tasimane menikahi seorang gadis di sana. Sayang, tidak punya keturunan. Makanya yang menjadi matamusan atau ikuntimir adalah Air. Maka ada air di Tohe namanya Weliurai yang datangnya dari Malaka. Sedangkan kelak kalau air itu kembali ke Malaka, dinamakan Wetoh atau Wetohe. Konon Tohe juga mengirim air ke Dili Liurai Motael dan dinamakan Wetoh atau Betò, di bagian barat Kota Dili. Ya ikatan adat dan darah, telah menjadikan perdebatan itu menuju tanda persekutuan.

2. Niki-Uman atau Niki Matan. Ini konon dikisahkan oleh Suku Manesanulu di Tohe bahwa leluhur Tohe berangkat mencapai Tohe dari Lubuk Bauboen atau Makasar (Gowa-Tallo)
dan membawa kelelawar sebagai tanda mata. Maka dilepaskanlah kelelawar itu untuk beranak-pinak di dalam Gua Kelelawar di Tohe. Secara adat, baru diperbolehkan kelelawar itu dipanen secara meriah, setiap tiga tahun sekali. Di dalam Gua Kelelawar itu terdapat danau bawah tanah, yang mana menjadi sumber air yang melimpah dari bebukitan (fatu dikin, artinya puncak bebatuan) mengalir turun ke wilayah dataran rendah yang dalam bahasa Tetun disebut le’un atau rai-ain. Ya kedua desa Tohe yakni Tohe dan Tohe Leten, kerap masing masing digelari Tohe Le’un atau Rai-Ain, sedangkan Tohe Leten digelari Tohe Fatudikin.

Secara georafis, nama adat Tohe adalah Fatuto’ur Maubanis, Likubauk Leowalu. Itu menandakan batas-batas Kerajaan Kecil Tohe yang sekaligus menjadi tempat hunian bagi masyarakat Tohe.
Masyarakat Tohe umumnya berbahasa Tetun, dan sebagian kecil berbahasa Kemak, sebagai bentuk perkembangan semenjak tahun 1975 ketika banyak penduduk dari Maliana dan sekitarnya, mengungsi dan menetap di Tohe ketika itu, yakni di saat terjadi pergolakan di Timor Timur tatkala itu. Walau masyarakat Tohe kian beragam, namun tetap dalam satu ikatan Umametan Tohe, Rimean Tohe, Ina Lasiolat Ama Dualasi, Dasi Senulu Aluk Senulu, Fialaran du’uk, Fehalaran du’uk, Loro Bauho, Belu Tasifeto, As Tanara, Manuaman Lakaan, Husar Rai Timor, Binan Rai Timor, Ksadan Takirin, Molin Takirin, Lema Rai Timor, Tomak Rai Timor.
Tohe majulah terus bersama ketiga saudara kandungmu dari Ina-Ama Lasiolat: Asumanu, Maumutin-Raifatus dan Aitoun. Juga dengan sepupumu tersayang Lamaknen.

TOHE LIKU BAUK

TOE UMAN
TOE FATIN

MON FATIN
METAN FATIN

HALIBUR FATIN
HANURUS FATIN

LIKURAI UMAN
LIKURAI FATIN

KAUBAUK UMA
KAEBAUK FATIN

DAHUR FATIN
LIBAN FATIN

 

Penulis : P. Emanuel Lelo Talok