Peringati “Loron Matebian” Peziarah Padati TPU Manuaman

Foto: Evo/Ziarah Makam TPU Haekesak

Wilain-toheleten.sideka.id. Perayaan All Souls Day atau Loron Matebian dalam bahasa daerah Belu (bahasa Tetun) menjadi momen pertemuan antar keluarga. Hari bersejarah dalam satu tahun dimana orang-orang antar sekeluarga, satu suku, satu marga, satu keturunan bisa reuni, saling bertemu dan saling mengenal satu sama lainnya . Kamis (02/11/18) Pengunjung berdatangan dari berbagai tempat ke kampung asalnya berkumpul bersama dan berziarah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Manuaman, Likubauk-Fatuto’ur, Wilain Desa Tohe Leten.

Hari Semua Jiwa (penerjemahan harfiah dari bahasa Inggris: All Soul’s Day), adalah suatu hari yang dirayakan untuk memperingati semua orang beriman yang telah meninggal dalam agama Kristen, biasanya untuk mengenang arwah leluhur/kerabat, walaupun tidak secara khusus dimaksudkan untuk itu. Dalam Kekristenan Barat, perayaan tahunan ini sekarang diperingati setiap tanggal 2 November dan terkait dengan Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November), serta vigilinya, Halloween (31 Oktober).

Dalam buku liturgi Gereja Katolik barat (Gereja Latin) hari perayaan ini disebut Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, dan dirayakan setiap tahun pada tanggal 2 November meskipun tanggal tersebut jatuh pada hari Minggu, hari tersebut umat Katholik tetap berdoa bagi arwah semua orang yang telah meninggal dunia.

Anglikanisme juga menggunakan sebutan yang serupa dengan Gereja Latin, dan menjadikannya suatu perayaan fakultatif (opsional). Bagi kalangan Anglikan mereka memandang perayaan ini sebagai perpanjangan Hari Raya Semua Orang Kudus dan berfungsi untuk “mengenang mereka yang telah meninggal dunia”, dalam kaitannya dengan doktrin teologis tentang kebangkitan badan dan Persekutuan Para Kudus.

Perayaan All Souls Day/ Hari Arwah, 2 November Sehari setelah hari perayaan orang kudus disebut sebagai Hari Para Arwah yaitu hari yang ditetapkan untuk mengenang dan mempersembahkan doa-doa atas nama semua orang beriman yang telah wafat. Mengingat makna antara keduanya demikian dekat, maka tak mengherankan bahwa Gereja merayakannya secara berurutan. Setelah kita merayakan hari para orang kudus, kita mendoakan para saudara/saudari kita yang telah mendahului kita, dengan harapan agar mereka pun dapat bergabung dengan para orang kudus di surga.

Umat Kristiani telah berdoa bagi para saudara/saudari mereka yang telah wafat sejak masa awal agama Kristian. Liturgi-liturgi awal dan teks tulisan di katakomba membuktikan adanya doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia, meskipun ajaran terperinci dan teologi yang menjelaskan praktik ini dikeluarkan oleh Gereja pada abad berikutnya.

Baca Juga: http://www.netralnews.com/news/singkapsejarah/read/33627/hari.arwah.sedunia.doakan.keluarga.yang.meninggal

Hal inilah yang rupanya mendasari tradisi masyarakat di kampung kecil Wadas dan masyarakat Kristen pada umumnya, sesuai dengan iman dan kepercayaan mereka.

Manuaman, merupakan TPU yang paling banyak dikunjungi pada hari ini oleh peziarah karena hampir semua orang yang meninggal dimakamkan disini sejak masyarakat mulai menetap di kampung ini. Namun ada juga tempat lain seperti Makam tua di Ksadan Likubauk yang merupakan tempat pemakaman para raja dan merupakan kampung lama sebelum adanya TPU Manuaman. Pengunjung yang datang pun tak hanya dari masyarakat yang ada di kampung ini tetapi dari berbagai wilayah bahkan banyak juga pengunjung yang datang dari Timor Leste-RDTL. Para peziarah ini memadati pemakaman sejak pagi hingga malam hari secara bergantian bahkan ada yang sudah mendatangi tempat ini satu hari sebelumnya yakni pada tanggal (01/11) kemarin.

Foto: Evo/Peziarah Berkunjung ke Makam Para Meo/Raja di Kampung Lama Ksadan Likubauk

Tradisi mengenang dan mendoakan arwah-arwah yang meninggal ini juga digelar dengan berbagai kegiatan, seperti biasanya pada pagi hari diadakan misa bersama, berdoa, menyalakan lilin di makam/pekuburan, mempersembahkan kurban dan sajian, kemudian santap bersama-sama.

Tak hanya itu ada juga pengunjung yang datang hanya untuk sekedar bertemu dengan sahabat/kenalan, mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti kampung lama Ksadan Likubauk, Meriam peninggalan penjajah, rumah adat tradisional, gua Maria, dan menikmati indahnya pemandangan alam dari atas bukit barisan batu karang.  (Adm_Evo)

Foto: NN/Para Touris Belgia abadikan momen Meriam Kuno Peningagalan penjajahan di Likubauk, Wilain-Desa Tohe Leten
Facebook Comments
About toheleten 24 Articles
Desa Tohe Leten dengan ibu kota desanya Wilain merupakan salah satu Desa di wilayah perbatasan RI-RDTL dalam wilayah Kecamatan Raihat Kabupaten Belu, Propinsi Nusa Tenggara Timur Indonesia.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan