Pembunuh Berkaki Empat

photo : maxi. "sapi si pembunuh"
photo : maxi. "sapi si pembunuh"
photo : Maxi Mali. sapi “si pelaku pembunuhan”

Senin 5 Desember 2016 pagi, masyarakat Desa Tohe Leten digemparkan dengan sebuah kejadian duka yang menyedihkan dengan tewasnya saudara, bapak, opa Benyamin Kali (BK). Dengan penyebab kematiannya adalah sapi peliharaannya sendiri. Dengan isak dan tangis penuh duka, istri si korban Saudri, mama, oma Akulina Rafu (AR) berkisah; hari minggu tanggal 4 Desember 2016 pagi, seperti biasa penduduk tohe leten yang 90% berprofesi sebagai petani dan peternak untuk memberi makan ternak mereka dengan cara memindahkan ternak mereka ke lokasi yang berumput. Hal ini pun dilakukan oleh BK terhadap ternaknya, yang kebetulan berada di dekat gua kelelawar (Niki Matan). Pagi itu Ia berpamitan kepada keluarga dengan membawah parang, kalabaka (tas yang terbuat dari karung plastik), kopi dan senter. Dengan berpesan kepada sang istri; Hau kodi no senter tan hau sei liu ba Roek. Kalau udan bot hau lamai, hau toba nebana. awan sawan modi aitahan, jergen mamuk, no itan hanan saka hau toos ba bodik ita rua semprot moat sia lai (saya bawah senter karena mau terus ke Roek(nama sebuah kampung di Desa Tohe). kalau hujan nanti malam saya tidak pulang (rumahnya). Besok pagi jemput saya di kebun dengan bawah obat roundup, jergen kosong (wadah air) serta makan, untuk kita semprot rumput di kebun. Siang berlalu malam menjemput, namun BK tak kunjung pulang. AR yakin bahwa suaminya tidur di rumah keluarganya karena kebetulan dari siang hingga malam hujan lebat melanda tohe leten dan sekitarnya. Semua berlalu normal hingga malam, sekitar jam 23.00 wita, AR terjaga dari tidur, mengambil HP untuk menghubungi keluarga BK yang berada di Haekesak, namun mereka tidak mengetahuinya. Berarti BK hanya di Roek saja.

Pagi-pagi benar AR pun melakukan apa yang dipesankan suaminya. Ketika di kebun AR tidak melihat BK suaminya maka ia pun berniat untuk memberi makan ternaknya. tak jauh dari tempat ia berdiri terdengar suara rintihan kesakitan, dengan lantang ia memanggil nama suaminya dan bergerak menuju sumber suara. Benar itu adalah suaminya yang sudah dalam keadaan kritis dengan berlumuran darah, dan tali sapi terikat di tangan si korban. Dengan penuh kasih dan sayang diselimuti kesedihan sang istri berusaha menolong sang suaminya dan memintah bantuan dengan menghubungi anaknya yang berada di rumah melalui HPnya. Bantuanpun datang. Berniat untuk mengevakuasi korban dengan menggunakan kendaraan roda dua namun kondisi korban tidak memungkinkan. kemudian diusahakanlah alternatif lain berupa mobil pick up. Ketika kendaraan dan masyarakat dalam jumlah yang lebih banyak dengan niat untuk memberikan bantuan tiba di TKP, korban sudah tidak bernyawa lagi.

Dengan usaha, kerja keras dan keberanian, serta persetujuan pimpinan wilayah jenasah korban dievakuasi dari TKP oleh penduduk desa tohe leten menggunakan kendaraan roda empat menuju rumah duka di RT 001 RW 001, Dusun Ailete, Desa Tohe Leten.

Berdasarkan keadaan di lapangan serta kondisi korban, kami masyarakat desa tohe leten menyimpulkan bahwa korban tewas diseret oleh sapi jantannya sendiri yang berumur kira-kira 2 tahun. Sebelum kejadian ini sapi tersebut sudah hilang(lari) sekitar 2 bulan, yang kemudian kembali dan terjadilah peristiwa yang tragis ini. Korban disemayamkan satu malam di rumahnya di Ailete yang kemudian atas permintaan kelurga besar suku beibuis jenasah diantar ke Haekesak Desa Tohe. “Si pelaku” alias sapi jantan tersebut (foto di samping) akhirnya disembelih juga oleh pihak kelurga, seperti statment ” nyawa ganti nyawa, mata ganti mata”. Dan korban rencananya akan dikebumikan pada hari ini kamis 8 Desember 2016 di TPU Roek. Korban tewas meninggalkan seorang istri, 2 orang anak dan 5 orang cucu.

About toheleten 17 Articles
Desa Tohe Leten dengan ibu kota desanya Wilain merupakan salah Desa di wilayah perbatasan RI-RDTL dalam wilayah Kecamatan Raihat Kabupaten Belu, Propinsi Nusa Tenggara Timur Indonesia.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan